Reading:
Belajar jadi Pemimpin Efektif, How?

Belajar jadi Pemimpin Efektif, How?

June 2, 2020

Pepatah lama mengatakan, ketika sekumpulan kambing dipimpin oleh seekor harimau, maka kumpulan kambing tersebut akan menjadi segarang harimau. Kalau kata Nagabonar, seorang pengecut yang berprofesi sebagai copetpun akan turun ke medan laga dengan gagah berani ketika Jenderal Sudirman yang memimpin.

Ungkapan tersebut titik beratnya adalah pentingnya peran pemimpin dalam sebuah tim. Apapun level kepemimpinan tersebut, level supervisorkah, manajer, atau apapun itu, yang pasti kemajuan tim tergantung pada cara menjalankan peran tersebut.

Beberapa waktu lalu kami membaca salah satu artikel di HBR (Harvard Business Review). Ada banyak strategi yang umumnya dipakai oleh pemimpin/ manajer dalam mengangkat peforma organisasi. Namun pemimpin yang berhasil menurut artikel tersebut rata-rata adalah orang yang bisa mengenali potensi masing-masing bawahannya. Alih-alih memperlakukan semua orang sama, si pemimpin efektif lebih memilih untuk mengulik keunikan anak buahnya, kemudian memacunya.

Menjalankan peran pemimpin ibarat bermain catur, hanya bisa memenangkan pertandingan jika mengenali keistimewaan setiap bidak, tahu kapan harus menggerakkan kuda, benteng, dll. Bahkan kalau levelnya sudah master, sebuah pion yang hanya bisa maju tanpa bisa mundurpun bisa disekolahkan, lalu diubah menjadi benteng atau menteri yang bisa mematikan gerak raja lawan. Lalu pertanyaannya, bagaimana berlatih menjadi pemimpin efektif?

Berikut beberapa hal yang bisa diterapkan untuk berlatih menjadi pemimpin efektif,

  1. Kenali tiap anggota tim
    Mengenal secara personal tiap anggota tim adalah awal sebuah kemenangan. Kenali bagaimana kepribadiannya, dimana letak potensi utamanya, apa yang bisa memacunya, termasuk bagaimana cara mereka belajar hal baru.
  2. Fokus pada potensi
    Individu itu seperti koin, memiliki dua sisi, sisi potensi keunggulan dan sisi kelemahan. Sebagai pemimpin cobalah lebih fokus pada potensi yang mereka miliki, optimalkan.
  3. Lakukan coaching
    Agendakan untuk melakukan coaching secara personal. Pertama bantu mereka mengenali kelebihan diri terlebih dahulu, karena tidak setiap individu tahu potensi diri mereka. Kemudian berikan tantangan secara bertahap, buatlah target bersama untuk mengolah potensi itu menjadi keunggulan (dari mereka untuk mereka).
  4. Buat interdependensi
    Ketika setiap individu dalam tim sudah memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing maka akan tercipta sebuah interdependensi. Ingat, benteng tidak bisa men-skak mat seorang diri, perlu bidak lain untuk bisa mengunci langkah si raja lawan.
  5. Pacu performansi
    Memacu kinerja tidak harus dengan menekan dan memberi target tinggi. Dorong mereka untuk menekan diri sendiri untuk mencapai performansi optimal, tingkatkan resiliensi mereka. Banyak hal bisa dijadikan tools, bonus salah satunya. Tapi pemacu kinerja terbaik adalah sebuah pengakuan. Berikan apresiasi pada prestasi/ target kecil yang berhasil mereka selesaikan dengan baik, dan ketika target tim tercapai tidak ada salahnya melakukan perayaan kecil. Menjadi pemimpin tidak selalu soal membentuk individu sesuai kebutuhan organisasi, tapi lebih ke arah memunculkan potensi tiap pribadi dan mengolahnya untuk keunggulan organisasi. (Lw)


0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

June 12, 2020

Mencetak Leader

Siapa yang tidak kenal Gudeg Yu Djum, bisnis gudeg (makanan khas Jogja) yang cabangnya ada di seantero Yogyakarta. Tahukah kalian kalau Gudeg Yu Djum ini berawal dari sebuah lapak sederhana di daerah Wijilan, dekat alun-alun utara. Dirintis sejak 1951 oleh Bu Djuwariyah alias Yu Djum itu sendiri.

September 3, 2020

Sudah pantas menjadi pemimpin ?

Dalam satu kesempatan kita pasti pernah merasakan atau setidaknya melihat seorang bos yang tidak cakap dalam memimpin. Di kesempatan lain kita juga pernah bertemu atau bahkan berinteraksi langsung dengan seseorang yang mampu menginspirasi, membantu meningkatkan kapasitas diri kita dan memberi nilai tambah pada hidup kita.

by
November 16, 2020

Frustasi menjadi motivasi

Kemunduran dan kegagalan tidak akan lepas dari emosi negatif. Seorang yang baru saja kehilangan banyak uang, tertinggal dalam promosi karir, dikhianati atau gagal memenuhi target bisa merasa kecewa, frustasi dan bahkan marah

by
Arrow-up