Reading:
Visionary Leader

Visionary Leader

June 11, 2020

Hampir di setiap perusahaan yang memiliki kinerja gemilang selalu ada sosok pemimpin visioner di baliknya. Mereka ini biasanya dikenal dan dikenang karena kemampuannya dalam membawa kemajuan bisnis. Lihat saja di Apple ada Steve Jobs, di Astra ada Om William, di Ciputra ada Pak Ci, dll. Ketiga nama tersebut adalah founding father di perusahaan masing-masing, namun tidak selalu pemimpin visioner selalu si perintis. Contohnya Jeck Welch, CEO brilian dari General Electric. Di eranya, tahun 90-an, dia dinobatkan sebagai CEO terbaik atas keberhasilannya membawa kemajuan luar biasa di GE.

Di awal penunjukannya, awal 80-an, GE adalah perusahaan raksasa dengan banyak bisnis dan anak usaha yang menggurita. Tapi saat itu dengan berani Jeck Welch melakukan restrukturisasi, menjual banyak anak usaha, sehingga GE menjadi lebih ramping. Saat itu banyak yang mengkritik dan menghujat, tapi di tahun-tahun berikutnya visinya terbukti benar. Secara organisasi memang GE lebih kecil dari sebelumnya, tapi secara omset melejit berkali-kali lipat.

Seorang visionary leader seperti tokoh-tokoh di atas memiliki kesamaan karakteristik, antara lain sebagai berikut:

  1. Berorientasi jangka panjang
    Mereka umumnya mampu melihat jauh ke depan. Penglihatan tersebut diterjemahkan dalam visi perusahaan. Visi menjadi semacam ‘guiding principles’ untuk para karyawan mengenai masa depan organisasi. Pada gilirannya visi menjadi energi yang menggerakkan seluruh elemen.
  2. Entreprenuerial spirit
    DNA sebuah perusahaan adalah spirit wirausaha. Oleh karenanya, seorang pemimpin bisnis wajib memiliki spirit tersebut. Biasanya perusahaan ketika masih merintis, masih kecil, entreprenuerial capacity-nya terlihat sangat jelas. Aspek entreprenuerial capacity ada tiga, eksplorasi peluang, keberanian mengambil resiko, dan berfokus pada pencapaian nilai ekonomis.
  3. Intuisi tajam
    Intuisi bisnis merupakan perpaduan antara hasrat, imajinasi dan pengetahuan. Tanpa ada imajinasi (kreativitas), bisnis akan biasa saja, tidak memiliki pembeda dari kompetitor. Imajinasi tanpa didukung pengetahuan bisnis yang solid juga hanya akan menghasilkan keputusan yang tidak realistis. Dan bila kedua elemen tersebut tidak disertai hasrat yang kuat dari si pemimpin, hasil akhirnya juga tidak akan maksimal. Menurut Malcom Gladwell, dalam bukunya Blink, tidak sedikit keputusan bisnis terbaik justru tercipta tidak melalui pemikiran rasional yang tersistematis, tapi melalui wisdom dan insting si pemimpin. Apalagi terkadang keputusan harus diambil secara cepat, yang tidak memungkinkan kalau harus menunggu rapat-rapat eksekutif.

Dengan mengasah 3 hal di atas, setiap kamu memiliki peluang untuk menjadi pemimpin yang kelak membawa organisasimu menjadi besar. Ingat, menjadi pemimpin adalah sebuah proses jangka panjang. (Lw)

Disarikan dari:
Making the Giant Leap (Atmadja, 2010)



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

June 14, 2020

Visi Misi, Pentingkah?

Setiap organisasi, profit-non profit-pemerintahan, selalu memiliki visi misi. Entah visi misi tersebut dihayati atau sekedar pajangan dinding dan pelengkap AD ART, yang pasti keberadaannya cukup penting bagi sebuah organisasi.

June 15, 2020

Kamu Bisa Menjadi Sumber Energi

Kita semua tahu bahwa matahari merupakan pusat tata surya. Gravitasi matahari membuat planet dan benda-benda langit di sekelilingnya terus berevolusi. Di bumi tempat kita berpijak, matahari adalah energi utama kehidupan.

October 21, 2020

Vulnerable leadership

Saat ini pemimpin harus bisa menunjukan dirinya secara lebih otentik, sudah tidak zamannya pemimpin selalu mencitrakan dirinya sebagai orang yang selalu kokoh dan tak tergoyahkan. Setidaknya pendemi kali ini mengajarkan banyak hal

by
Arrow-up