Reading:
Tentang Resiliensi

Tentang Resiliensi

July 23, 2020

Satu kejadian yang sama bisa dimaknai berbeda oleh orang berbeda. Umumnya orang akan meratapi sebuah kesulitan yang menyebabkan keterpurukan, namun tidak sedikit orang yang mampu mengambil makna dan menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum untuk lebih berkembang. Resiliensi dipicu oleh kepahitan dan kekecewaan yang dirasakan oleh seseorang. Alih-alih menyerah pada keadaan, seorang yang resilien perlahan tapi pasti akan mampu bangkit dari keterpurukan yang dihadapi.

Ada beberapa hal yang sebenarnya kurang tepat terkait resiliensi yang sudah terlanjur populer, berikut diantaranya :

  1. Seperti pantulan bola bekel
    Rata-rata situs atau akun sosial media yang membahas resiliensi menggunakan bola bekel sebagai ilustrasi. Tidak sepenuhnya salah sebenernya, hanya saja perlu diluruskan. Ketika bola bekel dijatuhkan ke lantai maka akan langsung memantul, terkesan tanpa usaha. Sedangkan kita ketika terpuruk tidak semudah itu kembali bangkit, perlu usaha dan waktu alias tidak terjadi secepat pantulan bola bekel. Sangat bagus ketika bisa cepat bangkit, tapi mereka yang butuh waktu agak lama untuk bangkit bukan berarti tidak resilien.
  2. Tiadanya emosi
    Emosi sering dipandang sebagai tanda kelemahan, terutama emosi negatif seperti bersedih, menangis, marah, dll. Sehingga ketika resiliensi diartikan sebagai ketegaran, dimana ketika keterpurukan menimpa orang resilien tidak akan merasakan kesedihan atau kemarahan. Padahal tidak juga, sangat wajar kita merasa sedih, menangis dan marah ketika situasi sulit menekan. Emosi negatif tidak harus dihilangkan, tapi dikendalikan. Sedih boleh asal jangan lama-lama. Jadi sedih dan marah itu boleh, asal hal tersebut tidak menjadi penjara yang menahan kita dari kebangkitan.
  3. Resilien=melampaui batas rata-rata
    Di buku self help, terutama yang berkiblat ke barat, menggambarkan resiliensi sebagai kebangkitan luar biasa. Contohnya seorang wirausaha yang bangkrut kemudian menjadi tajir melintir. Atau seorang atlet yang gagal kemudian beberapa tahun setelahnya mampu menjadi juara di berbagai kompetisi. Resiliensi tidak hanya kisah heroik seperti itu, kita mampu bangkit dari kegagalan-kegagalan kecil di kehidupan sehari-hari itu sudah termasuk resiliensi. Bahkan kita menyadari bahwa kita lebih kuat dari apa yang selama ini kita kira saja sudah sangat cukup untuk disebut resilien. (Lw)


0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

October 26, 2020

7 menit untuk mengubah hari

Hanya butuh waktu 7 menit untuk mengubah bagaimana kita menjalani hari. Jika melakukan kebiasaan sederhana ini produktivitas, sikap, dan kesehatan mental kita bisa ditingkatkan.

by
October 13, 2020

Menghadapi perubahan

Pernahkah kamu merasakan perubahan di perusahaan, kemudian diam-diam berucap dalam hati, “ini seharusnya tidak terjadi”.

by
July 24, 2020

2 Aspek Resiliensi

Berbicara tentang resiliensi maka tidak lepas dari aspek apa saja yang ada di dalamnya. Secara umum ada dua aspek yang membangun konsep resiliensi, yaitu: kesulitan dan sikap. Mari kita kupas satu per satu.

Arrow-up