Reading:
2 Aspek Resiliensi

2 Aspek Resiliensi

July 24, 2020

Berbicara tentang resiliensi maka tidak lepas dari aspek apa saja yang ada di dalamnya. Secara umum ada dua aspek yang membangun konsep resiliensi, yaitu: kesulitan dan sikap. Mari kita kupas satu per satu.

  1. Kesulitan
    Setiap orang pasti mengalami kesulitan, hanya konteksnya yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Tidak jarang kesulitan tersebut membuat beberapa orang merasa tak sanggup menghadapinya, hingga terpuruk oleh kesulitan yang sedang dihadapi tersebut. Namun sebagian lagi ada yang mampu bangkit untuk mencari jalan keluar. Awal dari resiliensi adalah adanya sebuah kesulitan yang terkadang membuat seorang merasa kecewa dan merasakan kepahitan hidup.
  2. Sikap
    Sikap berkaitan dengan bagaimana seorang merespon kesulitan yang dialami. Sikap terdiri dari tiga hal, kognisi, emosi dan perilaku. Kognisi berkaitan dengan bagaimana orang tersebut melihat (mempersepsi) kesulitan yang ada. Ada yang melihat kesulitan sebagai halangan ada yang melihatnya sebagai peluang untuk berkembang. Saat berhadapan dengan kesulitan ragam emosi yang muncul, sedih, marah, senang dll. Kesedihan dan kemarahan yang berkepanjangan membuat kita terjebak dalam rasa frustrasi.

Yang membedakan seorang yang sudah resilien dan yang belum adalah bagaimana respon yang muncul ketika berhadapan dengan kesulitan. Seorang yang resilien perlahan tapi pasti akan mampu untuk bangkit, mereka mungkin merasa sedih dan marah juga, tapi emosi tersebut tidak memenjara mereka. Mereka aktif mencari jalan keluar dari kesulitan yang membuat mereka terpuruk. Sementara seorang yang belum resilien cenderung diam, mereka merasa tidak berdaya pada kesulitan yang sedang membelit.

Kita tidak bisa memastikan kesulitan apa yang akan menghadang kita di depan, dan bahkan kita tidak bisa sepenuhnya mengontrolnya ketika hal itu terjadi. Namun setidaknya kita bisa mengontrol sikap kita. Sikap kitalah yang akan menjadi penentu. Satu permasalahan yang sama akan berbeda hasil akhirnya ketika disikapi dengan cara berbeda.



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

August 23, 2020

Kebiasaan karyawan cerdas yang merugikan

Budi adalah siswa paling cerdas di sekolah, bisa dikatakan dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan beragam prestasi akademik yang pernah ditorehkan. Saat ini dia sedang meniti karir di sebuah perusahaan, ketika melihat sosial media (misal Linkedin) dia menemukan beberapa nama teman

July 6, 2020

Persiapan adalah Penentu

Tahukah kalian bahwa kecelakaan di alam paling banyak disebabkan oleh faktor human error. Beberapa hal yang sering menjadi penyebab kecelakaan tersebut antara lain: tidak mempersiapkan fisik dengan baik, peralatan tidak standar, tidak mengenal medan, dan suplai makanan kurang

August 13, 2020

Kebiasaan Pemimpin yang Memperkuat Budaya Perusahaan

Banyak literatur menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah faktor penting dalam membentuk budaya perusahaan. Pemimpin, apapun levelnya, adalah orang pertama yang akan dilihat pegawai terkait budaya yang mereka bawa pada perusahaan.

Arrow-up