Reading:
Kebiasaan karyawan cerdas yang merugikan

Kebiasaan karyawan cerdas yang merugikan

August 23, 2020

Budi adalah siswa paling cerdas di sekolah, bisa dikatakan dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan beragam prestasi akademik yang pernah ditorehkan. Saat ini dia sedang meniti karir di sebuah perusahaan, ketika melihat sosial media (misal Linkedin) dia menemukan beberapa nama teman yang dulu secara prestasi akadamik di bawahnya namun secara jenjang karir sudah berada di atasnya. Dalam tulisan ini Budi hanyalah tokoh fiksi, namun mungkin kita atau orang dekat kita adalah orang seperti budi.

Tidak diragukan bahwa kecerdasan (IQ tinggi) adalah aset berharga untuk kesuksesan, namun hal itu bukan satu-satunya faktor. Karena banyak karyawan yang memiliki potensi kecerdasan di atas rata-rata namun tidak begitu berhasil dalam meniti karir. Tidak ada yang salah dengan kecerdasan yang mereka miliki, hanya saja sering kali mereka terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan merugikan secara tidak sadar..

Berikut lima kebiasaan merugikan yang sering dialami karyawan dengan kecerdasan di atas rata-rata:

Mengabaikan keterampilan sosial

Karyawan yang terlalu cerdas seringkali terlalu percaya diri dengan anugerah kecerdasan yang mereka miliki, mereka terjebak pada keyakinan bahwa kecerdasannya sudah cukup untuk mendapatkan kesuksesan yang mereka inginkan. Mereka meyakini segela keberhasilan masa lalu adalah efek keceerdasan yang dimiliki. Hingga akhirnya tidak sedikit dari mereka lupa mengasah keterampilan-keterampilan sosial. Misal, seorang karyawan yang memiliki peforma bagus namun kurang dalam menjalin hubungan relasional. Akibatnya secara karir mereka tertingal dari rekan yang lebih mahir dalam menjalin relasi dengan atasan dan pelanggan. Solusi: ketika menghadapi situasi semacam ini, sebaiknya seorang karyawan menggunakan kelebihan yang ada untuk menutupi kekurangannya. Kelebihan kecerdasan yang dimiliki sebenarnya bisa menjadi daya tarik rekan kerja untuk menjalin kerjasama. Ketika kesempatan itu muncul maksimalkan untuk saling menutupi kelemahan sekaligus mempelajari keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk menunjang karir.

Kerjasama tim sering menjadi tantangan terberat

Karyawan cerdas sering kali memiliki standar tinggi dalam mengerjakan sesuatu, akibatnya mereka sulit untuk percaya pada orang lain yang kualitas pekerjaannya di bawah standar mereka. Mereka merasa tidak nyaman ketika harus bekerja dengan rekan yang memiliki ritme kerja rata-rata bawah, padahal ketika bekerja di perusahaan mereka sering kali tidak bisa memilih rekan kerja. Sikap perfeksionis membuat mereka sulit mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain, sedangkan ketika nanti menjadi manajer mau tidak mau harus melakukan pendelegasian beban kerja. Solusi: Tetap tinggi pada standar peforma kerja pribadi namun menurunkan standar untuk melihat pekerjaan orang lain. Perlu dipahami bahwa tidak semua orang bisa bekerja cepat, namun bukan berarti mereka tidak sungguh-sungguh dalam bekerja. Jadi perlu dicoba menilai rekan kerja dengan melihat kesungguhannya dalam berusaha. Dengan mengubah sedikit cara pandang dan sikap maka bekerja sama tidak akan lagi menjadi momok.

Mudah merasa bosan

Rata-rata karyawan cerdas memiliki rasa keingintahuan tinggi, hingga mereka akan mudah merasa bosan untuk melakukan hal sama berulang kali. Padahal untuk menjadi ahli seringkali harus melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Rasa ingin tahu yang tidak terkendali bisa menjadi jebakan, hal itu akan membuat mereka bisa dan tahu banyak hal namun tidak mendalam. Solusi: tidak perlu melakukan satu perubahan dramatis, kalau memang merasa bosan dengan satu hal yang sebenarnya akan mengantarkan pada kesuksesan maka perlu mengatur waktu secara berkala untuk mendalaminya, dan dengan selingan melakukan kegiatan yang menggairahkan, semisal melakukan hobi.

Terlalu berpikir mendalam pada semua permasalahan

Karyawan cerdas terbiasa nyaman dalam pergumulan pemikiran konseptual, sampai kadang mengabaikan pendekatan praktis untuk menyelesaikan suatu masalah. Mereka melakukan pemikiran mendalam ketika menemukan permasalahan yang menarik minat mereka. Di perusahaan, tidak semua hal harus diselesaikan melalui proses pemikiran mendalam, karena tidak bagus juga menghabiskan waktu hanya untuk membuat konsep. Solusi praktis dan cepat lebih menentukan keberhasilan karyawan dalam perusahaan. Solusi: perhatikan betul ketika proses berpikir sudah menjadi candu. Berhenti dan pertimbangkan alternatif lain yang kiranya lebih cepat dalam menghasilkan solusi. Jangan tertahan pada situasi yang mengharuskan berpikir terlalu lama.

Mengubungkan harga diri dengan kecerdasan mereka

Karyawan cerdas memiliki harga diri tinggi dengan kecerdasan yang dimiliki. Efek negatifnya, mereka menjadi mudah terjebak dalam kesombongan ketika berhadapan dengan rekan yang di bawah mereka, namun juga akan mudah merasa inferior ketika ada orang yang lebih pintar. Lebih jauh lagi, mereka menjadi cenderung menghindari situasi yang membuat mereka nampak tidak brilian lagi. Mereka melihat situasi yang membuat mereka terlihat tidak pintar sebagai ancaman, bahkan mungkin mereka cenderung akan sering menghindar pada situasi tersebut. Jika bertahan pada sikap seperti ini bisa-bisa mereka tidak cepat maju. Solusi: perlu mengambil sisi positif ketika harus bekerja atau berinteraksi dengan orang yang lebih pintar, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari kelebihan orang itu. Baja bisa dipertajam dengan baja, demikian pula manusia.

Dari semua hal tersebut mana yang pernah kalian alami? Jika saat ini masih ada yang terjebak dengan pola-pola di atas tidak perlu cemas, selalu ada waktu untuk pembenahan. Yang penting selalu ingat bahwa kecerdasan seperti pisau, besarnya kemanfaatannya sangat bergantung pada kedewasaan si pemiliknya.

Referensi: HBR.org



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

October 13, 2020

Menghadapi perubahan

Pernahkah kamu merasakan perubahan di perusahaan, kemudian diam-diam berucap dalam hati, “ini seharusnya tidak terjadi”.

by
November 30, 2020

Supaya Tetap Fokus Bekerja

Apa kebiasaan kita di awal hari? Apakah mulai dari bangun, kemudian mencari gadget untuk mengecek email, scrolling-scrolling media sosial, dan tanpa terasa sudah menghabiskan waktu lebih dari 30 menit atau lebih untuk hal itu.

by
June 5, 2020

Kualitas Pribadi yang Didamba Organisasi (2)

Menurut teori locus of control (loc) manusia dibedakan menjadi dua, eksternal loc dan internal loc. Jika kamu merasa segala permasalahan hidup akibat sistem yang bermasalah, orang-orang sekitar yang berusaha menjegal dari belakang, norma masyarakat yang tidak jalan

Arrow-up