Reading:
Prinsip kepemimpinan yang bertanggung jawab

Prinsip kepemimpinan yang bertanggung jawab

August 26, 2020

Dari waktu ke waktu peran pemimpin puncak, CEO, suatu bisnis semakin bergeser menyesuaikan tuntutan zaman. Pada tahun 2020, ketika dunia dilanda pendemi pergeseran tersebut cukup nyata, bahwa kepemimpinan tidak hanya dilihat dari faktor profit semata namun juga pada tujuan yang akan dicapai. Menyadari hal ini word economic forum (WEF) dan Acenture mengembangkan kerangka kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab. Berikut lima prinsip kepemimpinan yang disampaikan dalam WEF’s Young Global Leaders Summit:

Mertimbangkan para stake holder

Dalam membuat keputusan CEO tidak hanya mementingkan segelintir pihak saja, dia perlu memperhatikan semua pihak yang akan terkena dapak dari keputusan tersebut. Mereka   adalah karyawan, mitra bisnis, klien, dan juga masyarakat umum.

Merangkul emosi

Emosi memengaruhi manusia dalam mengambil keputusan, belajar, cara berkomunikasi dan bagaimana terhubung dengan Pemimpin yang bertanggung jawab perlu memaksimalkan fungsi intelektual (IQ) dan emosional (EQ) dalam menjalankan perannya. Ini mengarah pada memimpin dengan empati, yaitu melihat karyawan sebagai manusia yang memiliki emosi sebelum melihat mereka sebagai seorang profesional. Terutama saat krisis melanda, pahami kekhawatiran dan faktor apa saja yang akan membuat mereka merasa cemas. Kepemimpinan efektif akan tercipta ketika mengedepankan kemanusiaan.

Menjadikan misi sebagai kompas

Misi tidak boleh hanya menjadi penghias halaman website saja, dalam mengambil keputusan perlu mengacu pada misi yang sudah digariskan oleh perusahaan. Bahkan ketika ada peluang investasi yang menjanjikan, jika tidak sesuai dengan misi sebaiknya tidak asal diambil. Misi seperti kompas yang menuntun CEO dalam memajukan organisasi.

Prioritas pada kebermanfaatan teknologi

Dalam era digital kemajuan sebauh perusahaan turut ditentukan pada kemampuannya memanfaatkan teknologi. Apalagi selama pendemi kali ini proses interaksi, pembelajaran, dan bekerja hampir semuanya bergantung pada platform online. Perlu diketahui juga bahwa membabi buta dalam teknologi tidak selamanya menguntungkan. Perlu dipertimbangkan siapa pengguna, apa dampaknya, serta faktor resikonnya. Saat ini teknologi memang bisa melakukan apa saja, namun hanya teknologi yang berhasil membawa perubahan adalah yang dapat mengakomodasi emosi manusia

Memperluas wawasan secara berkelanjutan

Sebagai pemimpin harus disadari bahwa kita perlu berkomitmen untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Semakin luas wawasan semakin banyak perspektif yang bisa digunkan dalam membuat satu keputusan.

Referensi: Inc.com



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

June 12, 2020

Mencetak Leader

Siapa yang tidak kenal Gudeg Yu Djum, bisnis gudeg (makanan khas Jogja) yang cabangnya ada di seantero Yogyakarta. Tahukah kalian kalau Gudeg Yu Djum ini berawal dari sebuah lapak sederhana di daerah Wijilan, dekat alun-alun utara. Dirintis sejak 1951 oleh Bu Djuwariyah alias Yu Djum itu sendiri.

June 2, 2020

Belajar jadi Pemimpin Efektif, How?

Pepatah lama mengatakan, ketika sekumpulan kambing dipimpin oleh seekor harimau, maka kumpulan kambing tersebut akan menjadi segarang harimau. Kalau kata Nagabonar, seorang pengecut yang berprofesi sebagai copetpun akan turun ke medan laga dengan gagah berani ketika Jenderal Sudirman yang memimpin.

October 21, 2020

Vulnerable leadership

Saat ini pemimpin harus bisa menunjukan dirinya secara lebih otentik, sudah tidak zamannya pemimpin selalu mencitrakan dirinya sebagai orang yang selalu kokoh dan tak tergoyahkan. Setidaknya pendemi kali ini mengajarkan banyak hal

by
Arrow-up