Reading:
Menghentikan kebiasaan jelek

Menghentikan kebiasaan jelek

September 1, 2020

Sering kita merasa terganggu karena kebiasaan jelek yang susah dihentikan. Kesulitan dalam mengubah kebiasaan dihadapi hampir setiap orang, atau setidaknya mereka pernah mengalami fase tersebut. Semisal saja kebiasaan menunda menyelesaikan pekerjaan, sebagian besar pelakunya akan merasa kesal dengan diri sendiri ketika di akhir deadline tidak mampu menyelesaikan suatu pekerjaan. Tapi kemudian kebiasaan menunda tersebut kembali muncul dalam konteks pekerjaan berikutnya, hingga menjadi sebuah siklus.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Yale University, bagian otak yang berkaitan dengan pengendalian diri tidak berfungsi optimal ketika seorang sedang stres. Oleh karenanya kegagalan terbesar dalam menghentikan kebiasaan terjadi ketika seseorang sedang merasa jenuh, yang akhirnya untuk menghilangkan kejenuhan tersebut dengan melakukan kebiasaan sudah niat dihilangkan itu. Ketika seseorang merasa jenuh dan tertekan fungsi kontrol pada diri berada pada titik terendah. Alternatif cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan ‘mindfulness’, yaitu secara sadar mencoba memperhatikan atau merasakan apa saja sensasi yang muncul ketika perilaku yang ingin dihilangkan terjadi. Hal ini dilakukan supaya kesadaran dalam otak kita tumbuh.

Berikut tiga langkah yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan mindfulness untuk mengubah suatu kebiasaan:

Petakan kebiasaan

Hal pertama yang perlu dilakukan ketika ingin mengubah suatu kebiasaan adalah dengan mencari tahu apa saja pemicu yang dapat memunculkan kebiasaan tersebut. Ketika pemicu sudah diketahui kemudian adalah mengidentifikasi perilaku apa saja yang muncul dan apa efek yang akan didapatkan kemudian. Setelahnya kita bisa mencegah suatu kebiasaan dengan menghindari apa saja yang menjadi pemicu.

Renungkan dengan seksama apa akibat yang muncul

Ketika suatu perilaku muncul coba perhatikan dan renungkan apa akibatnya kemudian. Semisal ketika kita mendunda pekerjaan maka di kemudian hari akan mendapat teguran dari atasan, atau akan ada pekerjaan lain yang tidak bisa terselesaikan. Rasakan apa yang kita alami ketika kebiasaan-kebiasaan buruk itu masih mengikat diri kita, renungkan ketidaknyamanan yang akan dirasakan di masa depan. Ketika kita dapat mengasosiasikan munculnya perilaku jelek dengan ketidaknyamanan di masa depan dengan sendirinya kita bisa menghentikannya.

Dorong rasa ingin tahu

Cara mengubah kebiasaan biasanya dengan menjanjikan kepada diri sendiri suatu reward yang akan didapat ketika mampu menghalau kebiasaan tersebut. Semisal saja akan membeli barang tertentu ketika sudah mampu menghilangkan suatu perilaku dalam periode tertentu. Tidak salah memang, namun coba jangan hanya mengandalkan reward benda saja. Lebih baik eksplorasi rasa ingin tahu, jadi ketika berhasil menyelesaikan suatu tantangan coba ekplorasi apa lagi yang bisa dilakukan berikutnya. Otak kita selalu mencari tantangan lebih ketika selesai menyelesaikan satu permasalahan. Dengan memaksimalkan fungsi tersebut kita akan terus berkembang untuk membiasakan kebiasaan baik lainnya. (Lw)



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

August 23, 2020

Kebiasaan karyawan cerdas yang merugikan

Budi adalah siswa paling cerdas di sekolah, bisa dikatakan dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan beragam prestasi akademik yang pernah ditorehkan. Saat ini dia sedang meniti karir di sebuah perusahaan, ketika melihat sosial media (misal Linkedin) dia menemukan beberapa nama teman

July 24, 2020

2 Aspek Resiliensi

Berbicara tentang resiliensi maka tidak lepas dari aspek apa saja yang ada di dalamnya. Secara umum ada dua aspek yang membangun konsep resiliensi, yaitu: kesulitan dan sikap. Mari kita kupas satu per satu.

July 23, 2020

Tentang Resiliensi

Satu kejadian yang sama bisa dimaknai berbeda oleh orang berbeda. Umumnya orang akan meratapi sebuah kesulitan yang menyebabkan keterpurukan, namun tidak sedikit orang yang mampu mengambil makna dan menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum untuk lebih berkembang.

Arrow-up