Reading:
Sudah pantas menjadi pemimpin ?

Sudah pantas menjadi pemimpin ?

by admin
September 3, 2020

Dalam satu kesempatan kita pasti pernah merasakan atau setidaknya melihat seorang bos yang tidak cakap dalam memimpin. Di kesempatan lain kita juga pernah bertemu atau bahkan berinteraksi langsung dengan seseorang yang mampu menginspirasi, membantu meningkatkan kapasitas diri kita dan memberi nilai tambah pada hidup kita. Orang kedua ini, meskipun tidak memiliki jabatan secara tertulis namun sudah bisa disebuty pemimpin.

Karakter utama seorang pemimpin adalah mampu mendengarkan. Jadi sebelum membaca lebih lanjut coba renungkan dalam-dalam apakah kita sudah menjadi pendengar yang baik untuk orang-orang di sekitar kita. Keterampilan mendengar adalah keterampilan wajib yang mesti kita terus asah untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang lebih baik.

Ada beberapa akibat yang bisa ditimbulkan jika seorang pemimpin tidak mampu menjadi pendengar yang baik. Pertama, anggota akan berpikir dua kali ketika akan menyampaikan informasi penting, karena takut ditolak atau sekedar disepelekan. Kedua, keputusan yang diambil bisa jadi hanya berdasar asumsi, bukan berdasar fakta yang ada di lapangan. Ketiga, anggota tim tidak terhubung secara emosional. Di sisi lain, pemimpin yang bisa mendengarkan akan mampu memperoleh lebih banyak kepercayaan, kepuasan kerja anggota lebih tinggi, dan meningkatkan kreativitas tim. Jadi sudahkah kita menjadi pemimpin yang mampu mendengarkan dengan baik ?

Berikut beberapa tips supaya kemampuan mendengar kita meningkat:

Letakan perangkat seluler ketika berbicara

Jika tidak bisa memberikan perhatian penuh pada orang yang berbicara dengan kita, mungkin saat itu bukan waktu yang baik untuk memulai percakapan. Mulai percakapan jika memang sudah siap memberikan perhatian penuh pada lawan bicara kita. Sebaiknya selama percakapan berlangsung untuk tidak menggunakan perangkat seluler atau barang apapun yang bisa menjadi distraksi, sehingga kita bisa selalu menjaga kontak mata dan mendengarkan dengan seksama.

Hindari menyela

Ketika seseorang berhenti bicara untuk berpikir sejenak, godaan paling besar adalah menyelanya dangan menyampaikan pendapat kita. Respon itu biasanya tejadi secara tidak kita sadari. Untuk melatihnya coba datangi rekan kerja di jam istirahat, kemudian ajak dia bicara. Selama dia bicara tahan diri untuk menyela sampai apa yang ingin dia sampaikan sudah dikeluarkan semua.

Dengarkan tanpa menghakimi

Seringkali ketika kita melakukan percakapan kita secara tidak sadar sudah memiliki penilaian pada lawan bicara kita. Bahkan tidak jarang kita sudah menebak-nebak apa yang akan disampaikan sebelum keluar sepatah katapun. Pun ketika kata per kata meluncur dari lawan biacara kita, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan jangan menghakimi. Jika ada kalimat atau kata yang tidak jelas sebaiknya dengan sopan minta disampaikan ulang daripada berpura-pura mendengarkan padahal kehilangan satu momen tersebut. Terakhir, jangan memaksakan solusi kita pada permasalahan yang sedang dihadapi oleh lawan bicara kita.

Ajukan beberapa pertanyaan untuk tahu lebih dalam

Pelatih yang baik mengajukan beberapa pertanyaan untuk membantu atletnya mendalami suatu makna, demikian juga percakapan kita hendaknya memberi ruang lawan bicara kita untuk menemukan maknanya sendiri. Sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban atas permasalahan yang mereka hadapi. Ingat, seorang pendengar yang baik akan menanyakan pertanyaan, ‘apa yang sebenarnya kamu harapkan dalam situasi tersebut ?’, atau ‘ ada sesuatu yang lain ?’.

Refleksikan apa yang didengar

Setelah percakapan selesai cobalah untuk melakukan refleksi, tentang apa saja momen yang terlewatkan dan apa yang dirasakan orang yang sedang berbicara kepada kita tadi. Selain itu juga ambil nilai positif dari pengalaman yang kita dapatkan selama mendengarkan, dan bagaimana kira-kira mengaplikasikannya pada situasi yang lebih menantang.

Referensi: Inc.com



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

June 10, 2020

Giant Leap Organization

Setiap perusahaan dibangun dengan satu cita-cita, menjadi besar dan berkelanjutan. Meski begitu tidak banyak yang mampu mewujudkan mimpi luhur tersebut. Ada banyak hal yang menjadi penentu memang, seperti strategi bisnis, struktur, tools manajemen, sistem, dan SDM.

June 2, 2020

Belajar jadi Pemimpin Efektif, How?

Pepatah lama mengatakan, ketika sekumpulan kambing dipimpin oleh seekor harimau, maka kumpulan kambing tersebut akan menjadi segarang harimau. Kalau kata Nagabonar, seorang pengecut yang berprofesi sebagai copetpun akan turun ke medan laga dengan gagah berani ketika Jenderal Sudirman yang memimpin.

June 14, 2020

Visi Misi, Pentingkah?

Setiap organisasi, profit-non profit-pemerintahan, selalu memiliki visi misi. Entah visi misi tersebut dihayati atau sekedar pajangan dinding dan pelengkap AD ART, yang pasti keberadaannya cukup penting bagi sebuah organisasi.

Arrow-up