Reading:
Servant Leadership

Servant Leadership

by admin
September 30, 2020

Seorang pemimpin, tidak peduli dalam lingkup apa dan sudah berapa lama, dia belum menjadi pemimpin yang baik selama belum melakukan yang terbaik untuk karyawannya. Banyak pemimpin yang terjebak dalam jebakan kekuasaan. Mereka menggunakan power yang mereka miliki hanya untuk fokus pada target dan target, karyawan diposisikan sebagai alat semata. Hal hal semacam ini membuat karyawan diliputi rasa cemas, takut gagal, dan jadinya mereka bekerja dengan penuh rasa ketakutan. Emosi positif hampir tidak mereka rasakan selama bekerja itu.

Pada riset yang dilakukan oleh Dan Cable, seorang profesor organisasi di London Business School, pada industi layanan antar makanan di London, menemukan bahwa para supir dan kurir engagement-nya menurun ketika manajemen memutuskan untuk memangkas waktu dan biaya pengiriman. Mereka merasa tertekan ketika manajer selalu memeriksa kesalahan yang atau target yang tidak dicapai.  Bukannya menginspirasi, apa yang dilakukan oleh manajer tersebut justru menghentikan kreativitas berpikir mereka.

Gaya kepemimpinan yang terlalu fokus pada kontrol, target, dan mengesampingkan manusianya  akan mempersulit pemimpin mencapai hasil yang lebih besar. Yang sebaiknya dilakukan pemimpin adalah membantu karyawannya untuk memiliki tujuan dan motivasi, supaya mereka bisa memberikan yang terbaik dari diri mereka pada perusahaan.

Salah satu jalan yang bisa dijalankan pemimpin untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menjadi pemimpin yang rendah hati, seperti prinsip servant leadership. Prinsip servant leader adalah menjadi pemimpin yang memiliki kerendahan hati, keberanian dan keluasan untuk memberdayakan keahlian anggotanya. Begitulah cara seorang servant leader membangun budaya belajar dan mendorong anggotanya berkembang.

Seorang servant leader bertanggung jawab dalam menumbuhkan kepemilikan sekaligus otonomi pada diri karyawannya. Berikut beberapa cara tersebut:

Tanyakan apa yang mereka butuhkan untuk menjadi lebih baik

Nampak terdengar sederhana memang, jadi alih-alih memberi tahu karyawan apa yang harus dilakukan, akan lebih baik bila pemimpin menanyakan apa yang mereka butuhkan untuk menjadi lebih baik. Dua cara tersebut sama-sama untuk meningkatkan produktivitas, namun cara pertama secara efek psikologis lebih kuat..

Perubahan kecil ini dapat berdampak besar, ketika karyawan merasa apa yang mereka sampaikan didengarkan, harga diri dan kepercayaan diri mereka akan meningkat, dan mereka lebih termotivasi dalam bekerja. Setelahnya mereka tidak akan segan memberikan aspirasi, meski tanpa diminta terlebih dahulu.

Ciptakan ruang supaya karyawan bisa mengeksplorasi ide

Servant leader menciptakan ruang dimana para karyawan bisa bereksperimen dengan ide-ide mereka. Dengan cara ini secara tidak langsung pemimpin mendorong karyawannya untuk melampaui apa yang mereka ketahui saat ini. Karyawan diberi kelonggaran berbuat kesalahan dalam kadar tertentu sebagai pembelajaran.

Be humble

Pemimpin yang rendah hati, mampu menunjukan rasa hormat, dan bertanya bagaimana melayani karyawan, hasil akhirnya akan luar biasa. Pemimpin yang melayani adalah manusia yang bisa memanusiakan manusia.

Referensi: HBR.org



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

June 10, 2020

Giant Leap Organization

Setiap perusahaan dibangun dengan satu cita-cita, menjadi besar dan berkelanjutan. Meski begitu tidak banyak yang mampu mewujudkan mimpi luhur tersebut. Ada banyak hal yang menjadi penentu memang, seperti strategi bisnis, struktur, tools manajemen, sistem, dan SDM.

October 15, 2020

Visionary leader juga bisa gagal?

Seorang pemimpin yang visioner (visionary leader) secara umum dianggap sebagai kunci keberhasilan perubahan strategis sebuah perusahaan. Anggapan ini tidak salah namun tidak sepenuhnya benar

by
November 17, 2020

7 fase membangun bisnis

Bagaimana berhasil dalam bisnis, adalah pertanyaan besar bagi mereka yang mengawali sebuah usaha. Membangun usaha bisa diibaratkan lari marathon, tidak bisa cepat dan butuh konsistensi.

by
Arrow-up