Reading:
Mengapa sedikit perempuan di pucuk kepemimpinan?

Mengapa sedikit perempuan di pucuk kepemimpinan?

by admin
October 9, 2020

Stereotip umum yang sering jadi alasan mengapa lebih sedikit perempuan duduk di puncak kepemimpinan organisasi ada tiga, yaitu: (1) mereka kurang cakap, (2) mereka kurang tertarik, (3) mereka cakap dan tertarik namun ada batas-batas tak terlihat yang menghambat. Alasan lainnya, kita belum sepenuhnya mampu membedakan dengan cukup jelas antara percaya diri dan kompeten. Seakan orang yang percaya diri pasti kompeten, padahal tidak selalu. Sayangnya dalam hal ini menurut Thomas Chomorro, seorang profesor psikologi bisnis di University College London dan Columbia University, laki-laki secara alami lebih dalam hal percaya diri, dominasi, dan kharisma.

Masih menurut Chommoro, pada kelompok tertentu, yang anggotanya terdiri dari orang-orang pasif, cenderung memilih pemimpin dengan karakter egois dan terlalu percaya diri, bahkan ke arah narsistik. Ini menjadi pembenaran bahwa orang-orang yang kurang percaya diri (pasif) lebih memilih dipimpin oleh orang yang memiliki narsistik dan dominasi tinggi. Meski, terlalu percaya diri dan narsistik seringkali berbanding terbalik dengan kemampuan dalam mempimpin dan mempertahankan kinerja tim. Dalam olahraga, politik, maupun bisnis pemimpin terbaik biasanya memiliki karakter rendah hati dan secara emosional lebih matang. Menurut Chomoro lebih lanjut, kerendah-hatian dan kematangan emosi lebih melekat secara alami pada perempuan. Secara tidak langsung perempuan sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang lebih efektif dengan kecenderungan tersebut.

Riset yang dilakukan oleh Alice Eagli dan tim, menunjukan bahwa  manajer perempuan lebih mampu membuat anak buahnya merasa bangga dan berharga  karena mereka mampu berkomunikasi lebih dalam menyampaikan visi dan membimbing anak buah. Selain itu para manajer perempuan juga lebih kreatif dalam memecahkan masalah dan lebih memberikan penghargaan pada bawahan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menjadi pemimpn diperlukan kadar yang pas antara kepercayaan diri dan kerenda-hatian. Sehingga  baik laki-laki maupun  perempuan sebenarnya memiliki kesempatan yang sama dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tergantung bagaimana memanfaatkan kelebihan dan semangat belajar untuk menutup kekurangan yang ada.

Referensi: HBR.org



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

August 11, 2020

Pelajaran Kepemimpinan dari CEO Airbnb

Pendemi di sejak awal 2020 ini telah merubah banyak tatanan kehidupan, termasuk dunia bisnis. Banyak bisnis dari yang skala kecil sampai besar telah merasakan dampak pendemi, tidak sedikityang gulung tikar atau setidaknya terpaksa mengurangi pegawai demi mampu bertahan melewati krisis ini.

June 11, 2020

Collective Leadership

Dalam peperangan, menang dan kalah bergantung pada keberadaan si pemimpin. Contohnya perang Jawa, yang berakhir begitu Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap dan diasingkan. Padahal selama lima tahun Belanda cukup kelimpungan dan hampir putus asa memadamkannya.

August 13, 2020

Kebiasaan Pemimpin yang Memperkuat Budaya Perusahaan

Banyak literatur menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah faktor penting dalam membentuk budaya perusahaan. Pemimpin, apapun levelnya, adalah orang pertama yang akan dilihat pegawai terkait budaya yang mereka bawa pada perusahaan.

Arrow-up