Reading:
Vulnerable leadership

Vulnerable leadership

by admin
October 21, 2020

Saat ini pemimpin harus bisa menunjukan dirinya secara lebih otentik, sudah tidak zamannya pemimpin selalu mencitrakan dirinya sebagai orang yang selalu kokoh dan tak tergoyahkan. Setidaknya pendemi  kali ini mengajarkan banyak hal, tidak sedikit pemimpin yang dipaksa untuk berendah diri dengan situasi yang terjadi. Target tahunan yang sudah dicanangkan, profit yang sudah di depan mata, tiba-tiba hilang efek dari corona. Trump adalah contoh nyatanya, di awal dia sesumbar kebal  virus corona, tapi pada akhirnya kena juga.

Orang-orang dalam organisasi cenderung lebih suka dipimpin oleh orang yang cerdas, jujur, dan mempedulikan sesama dalam setiap keputusan yang diambil. Fokus pemimpin adalah membantu organisasi bertumbuh bukan sekedar mencitrakan diri sebagai seorang yang tangguh hingga semua orang menghormatinya.

Dunia bisnis yang semakin kompleks dan tidak pasti menuntut pemimpin untuk terus belajar dan beradaptasi. Tanda seorang pemimpin adaptif adalah yang menyadari dan mau mengakui kelemahan yang mereka miliki. Kerendahan hati akan menunjang pertumbuhan pribadi dan membantu  mengembangkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dengan itu mereka bisa membangun iklim tim yang nyaman, dimana semua orang didorong untuk berpendapat namun  tetap saling menghormati.

Pemimpin yang baik bisa menerima realitas yang sedang terjadi, mereka tidak berusaha untuk selalu benar. Mereka mau menerima kritik, karena menyadari bahwa hal tersebut yang akan mengantarkan pada kemajuan.

Satya Nadella adalah salah satu contoh vulnerable leader, dia memimpin transformasi di Microsoft dengan kerendah hati, rasa ingin tahu, dan semangat belajar yang tiada henti.  Contoh lain adalah Howard Scultz, yang kembali memimpin Starbuck pada tahun 2007. Setelah bisnis mengalami penurunan yang cukup besar. Dia memimpin dengan keterbukaan pada anak buahnya, tentang tantangan yang sedang dihadapi dan kerentanan apa yang ada di depan mata. Pertumbuhan dimulai dengan keterbukaan, keterbukaan memperkuat kepercayaan.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengasah  vulerable leadership pada diri kita?

Mulai dengan keterbukaan. Sampaikan sudut pandang kita kepada orang-orang di sekitar, termasuk apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui secara terbuka. Pemimpin yang baik menceritakan yang sebenarnya pada anak buahnya.

Jangan segan minta tolong. Pemimpin itu tidak harus selalu menjadi pahlawan yang bisa menyelesaikan segala permasalahan seorang diri. Peran pemimpin adalah bagaimana semua anggotanya bisa terlibat aktif untuk saling bekerjasama. Sehingga jangan segan untuk mendelegasikan tanggung jawab pada mereka. Kepercayaan yang diberikan akan meningkatkan komitmen mereka pada kita.

Keluarlah dari zona nyaman. Salah satu alasan mengapa banyak orang berhenti berkembang adalah karena mereka berhenti belajar, bertahan pada kebiasaan yang sudah membuat nyaman. Siklusnya hanya mengulangi keberhasilan di masa lalu. Mempelajari skill baru akan membuat kita rentan dalam jangka waktu pendek namun efeknya akan menambah kekuatan kita di jangka panjang.

Ketika membuat kesalahan, akui dan minta maaf. Ketika kita melakukan kesalahan, sebesar apapun itu jangan segan untuk mengakuinya. Meskipun mereka masih kecewa tapi mereka akan menghargai kejujuran kita. Ketika kita berbohong atau menutupi kesalahan  maka efek jangka panjangnya akan lebih berbahaya. Ketika itu ketahuan maka kepercayaan mereka akan turun begitu cepat.

Supaya pembelajaran tidak berhenti makan di dalam organisasi harus ada iklim yang dimana setiap orang bisa bebas berbagi pengetahuan. Vulnerable leader tidak keberatan bertanya pada anggotanya, ketika ada permaslahan terkadang justru anggota yang lebih tahu bagaimana memecahkan masalah tersebut.

Referensi: HBR.org



0 Comments

Leave a Reply

Related Stories

August 13, 2020

Kebiasaan Pemimpin yang Memperkuat Budaya Perusahaan

Banyak literatur menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah faktor penting dalam membentuk budaya perusahaan. Pemimpin, apapun levelnya, adalah orang pertama yang akan dilihat pegawai terkait budaya yang mereka bawa pada perusahaan.

September 28, 2020

3 elemen kepercayaan

Sebagai pemimpin dalam suatu organisasi pastinya menginginkan kepercayaan dari para anggotanya. Kepercayaan sangat menentukan bagaimana evaluasi pada si pemimpin, ketika tingkat kepercayaan tinggi evaluasi positif yang akan didapat dan

by
September 3, 2020

Sudah pantas menjadi pemimpin ?

Dalam satu kesempatan kita pasti pernah merasakan atau setidaknya melihat seorang bos yang tidak cakap dalam memimpin. Di kesempatan lain kita juga pernah bertemu atau bahkan berinteraksi langsung dengan seseorang yang mampu menginspirasi, membantu meningkatkan kapasitas diri kita dan memberi nilai tambah pada hidup kita.

by
Arrow-up